Skip to main content

Secangkir Kopi dan Cerita

Untuk Kamu, 
Jadi sebenarnya ini yang selalu coba kusampaikan dalam sunyi, 
Sudah berulang pun aku mengaku, 
Kalau aku hanyalah seorang pengecut yang bersembunyi. 
Dan bahwa ini hanyalah sebuah rangkaian gerbong kereta, 
Yang berpindah dari satu stasiun patah hati ke stasiun patah hati yang lain. 




Pahit Tegukan Kopi 

Di huruf-huruf yang berurut. 
Kutemui nama, yang tidak begitu sulit
untuk dieja kembali. 

Di kekokohan pikiran yang sedang kurajut. 
Kutemui kau memanjang, mengutas, dan mengerat, 
seperti tali. 

Lalu di bintang-bintang malam yang melaju, yang melecut, 
Kutemui kau,
 hal terindah yang pernah tidak kumiliki 

Dan di seteguk pahit kopilah
Aku mengingatmu, seluruhmu. 





Penguncian

Kucoba ingat kembali saat itu, 
Pertama kali ku mengenal suaramu,
Di saat tenggelamnya matahari belum menyalak sendu, 
Di saat tak perlu ada rindu. 

Kita sama hidupi malam
Seperti pun banguni siang 
Kita gali semua yang dalam 
Lalu sama berteriak dengan lantang 
"Selamanya!!" 
Kita bahagia.. 

Sementara, 
Satu pertanyaan setan terus mendenging. 

"Selamanya?" 





Ak. Sa. Ra.

Seandainya langit mampu memainkan warna 
Lalu ia muak mendengar cerita tentangmu
Maka ia akan selamanya hitam kelam 

Seandainya angin selalu berdesir kencang
Lalu ia membawa lagi cerita tentangmu 
Ia bosan, menghampa, berdesir ke arah lain

Lalu jika laut yang jauh 
Di biru pantulannya ia melihatku masih merimba karenamu
Pastilah ditenggelamkan matahari lebih cepat 

Namun, seandainya satu huruf aksara bosan menceritakanmu, 
Dua puluh enam yang lain 
Masih bisa kugunakan untuk bercerita, 

Tentangmu. 





Filosofi Matahari 

Saat itu apa kau sudah lupa apa yang kau kata? 
Kau memintaku 'tuk belajar tentang semesta 
Tentang rasi yang menunjuk ke utara 
Serta matahari yang membara 

Sekarang baru kupahami, sedikit. 
Tentang matahari yang menyimpan sakit. 
Sinarnya dilewat begitu saja. 
Oleh mereka; yang hanya berdenyut saat bintang malam mengeja.





Aurora Pelangi

Sekali waktu, aku jatuh,
jauh
dalam ketidakpastianmu

Sedari awal, kukira 
memang begini pasti akhirnya 

Kau yang berwarna 
Mengiring duka dan luka semesta

Sedang aku?
Diam.

Mengalun hening 
Disembunyikan sepi. 





Tentang Seorang Penyair

Penyair tidak membunuh lewat pisau, 
Ia membunuh dalam kata yang merisau. 

Tidak, ia takkan mengumbar syair kepada alkohol yang meracun. 
Ia berbagi syairnya dalam tumpahan sepahit-pahtinya tetes kopi. 

Penyair tidak meragu! 
Berteriak! Menyuara! Melagu! 

Dalam paginya ia menyair
Gila di dunianya 

Bukan dikagumi yang ia damba, 
Tapi dingin yang mencair.

Berlari ia, kening berair.
Tak peduli, terus dia membara.







Di Sekitar Rintik-Rintik Hujan 

Hujan, datanglah nanti saja
Satu atau tiga tahun kemudian
Biarkan kemarau penikam tumbuh

Aku tidak perduli
Kembalilah saat sudah ditemuinya bahagia
Agar dapat kurenungi sedihku sendiri







Petrikor

Harum tanah yang barusan. 
Dibawa setenang mungkin oleh hujan. 

Membawaku jauh ke belakang menuju angan. 
Jika ku tak kembali, kaulah tumpuan. 

Wahai puan, 
Bisa kah kau ingat tanpa paksaan?

Kau lah perempuan
Yang dahulu kutitipi perasaan.






Selestial Liar


Berjalanlah, para pencari pagi! 
Di tikung-tikungan ramai pasar, 
Di sela-sela aspal, 
Dan di tanah-tanah gemuk nan keras 
Untuk pagi, esok lagi! 

Kalau aku, 
Aku tetap hidup, 
Dengan atau tanpa hampa, wanita, harta, 
Karena akulah selestial liar, 
Rumahku kekosongan, berkasur kata-kata 


Terkurung dalam kamar hitam, gelap! 
AKU MESTI KELUAR! 
Menjadi selestial terliar
dari mereka yang termerdekakan, 
Yang berlupa, yang berlari-berjalan. 
Dari mereka yang hidup!






Cerita Malam Ini
(ini ironi yang ditertawakan penulisnya sendiri)

Jadi begini. Barusan kulewati jalan yang dulu pernah kita lewati.
Masih sama lurusnya, rindangnya, dan bisingnya 
Tetap saja ada yang mengganjal, di jalan ini seperti ada yang baru mati. 
Nah, kan! Teringat lagi mukamu yang dulu pernah kubuat ketawa

Teringat  lagi aku tentangmu
Tentang semua: 
Bajumu malam itu, kembang api, dan lentera-lentera yang mengangkasa malu-malu
Ah, sudahlah! Sudah muak aku mengingatmu! Malam ini, kau akan kulupa! 

Palingan kau lagi senyum setelah diucap selamat malam dari dia-mu
Palingan kemarin kau dan dia-mu malam minggu ke tempat yang kita datangi dulu
Palingan kau sedang memeluk boneka mahal yang dia-mu beli di negeri ulung abu 
Paling tak kau ingatku meski hanya sekilas debu

Lah! Ini kenapa jadi aku ingat kau lagi? 
Padahal sudah tidak mau kau kuingat, tadi. 
Kalau begitu, begini: 
Cerita ini kan kutulis untuk yang ke sekian kali
Lalu kutitip pada angin biru di Senin pagi.





Sendu

Kupikir kau harus tahu kalau aku pernah berusaha 
Merebut sejagat dan seraya 
Yang ada di matamu 
Melabuhlah teduh yang tadi melagu, meragu 

Mungkin kita tak pernah di situ. 
Bahkan mungkin belum pernah ada kita. 
dan jika ini adalah sebuah akhir dari sebuah cerita 
maka puas, kira penulisnya. 

Menyuntikan semili sendu

Yang membuatku kembali merindumu







Suatu Malam 
(di pertengahan bulan Mei) 
Lalu di ketidak-sadaranku. 
Hujan kembali turun. 

Setelah menyadarkan janji yang belum lama kupaku. 
Melambat semua. Dihampirinya aku, Iramanya mengalun. 

"Dia hanya kembali ketika kau sudah bahgia," di tengah rindu yang terasa, hujan melafalkan dengan pilunya nada

Kau bahagia 
Tanpa adanya aku. 






Soal Pulang 

Kamu, 
Di manapun kamu sekarang berpijak, 

Injaklah bumi! 
Melangkahlah dengan siapa yang kau sukai. 
Bernafaslah! 
Hembus angin, gerakan awan. 
Tersenyumlah! 
Jangan kau tutupi. 

Lalu nanti. 
Pada suatu 
pagi atau sore, 
panas atau hujan. 

Kau akan kembali. 

Dan aku pun sama. 

Kita akan kembali bertemu di tengah kerumunan, 
sama tersenyum. Mengikat rindu. 

Menertawakan waktu. 



Comments